Kamis, 15 Maret 2012

Kisah Dalam Al-Quran


BAB I
PENDAHULUAN
Sudah dikethuai dan dipergunakan berabad-abad bahwa Al-Qur’an sebagai sumber utama bagi umat Islam dalam mengatur segala aspek kehidupannya dan petunjuk bagi sikap dan prilaku baik menjalani kehidupan d nnya dan petunjuk bagi sikap dan prilaku baik menjalani kehidupan dunia maupun persiapan menuju akhirat.     Banyak orang kagum atau tertarik pada al-Qur’an, namun tanpa dapat menjelaskan mengapa mereka kagum dan tertarik. Tanpa dogma-dogma teologis pun teks al-Qur’an telah menjadi bukti yang inheren atas kemahaindahannya. Beberapa keindahan yang menonjol dalam teks-teks al-Qur’an bagi orang awam sekalipun, adalah teks-teks tentang kisah (cerita).
Kisah (cerita) di dalam al-Qur’an terdapat dalam 35 surat dan 1.600 ayat. Tak mengherankan jika kemudian Allah menyebut al-Qur’an sebagai kumpulan cerita terbaik, meski ia bukanlah buku cerita biasa.

“…Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu (QS. Yusuf: 3)
Predikat kisah terbaik ini semakin kokoh karena kisah-kisah dalam Al-Qur’an telah diberi karakter sebagai kisah yang benar (al-qashash al-haq).Sayangnya jumlah yang hampir mendominasi seluruh isi al-Qur’an ini kurang mendapat perhatian para peneliti dibandingkan perhatian mereka terhadap ayat-ayat hukum, teologi, dan yang lainnya.[2]

Bagi anak-anak, duduk manis menyimak penjelasan dan nasihat merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, duduk berlama-lama menyimak cerita atau kisah adalah aktivitas yang mengasyikkan. Oleh karenanya memberikan pelajaran dan nasihat melalui cerita adalah cara mendidik yang cerdas dan bijak.[3]
Itulah sebabnya, dalam mengemban tugas dakwah, untuk membuka hati manusia Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk banyak-banyak bercerita. Dengan bahasa perintah yang cukup tegas Allah berfirman

“Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”

(QS. al-A’raf : 176).

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KISAH
Menurut bahasa, kata qashash berarti kisah, cerita, berita atau keadaan . Kata kisah berasal dari bahasa Arab qishshah, yang diambil dari kata dasar qa sha sha. Kata dasar tersebut ditampilkan al-Qur’an hingga sebanyak 26 kali[1]. Dari penelusuran ayat-ayat yang menggunakan kata dasar tersebut dapat diambil pengertian sebagai berikut:
Kata dasar tersebut kadang juga ditampilkan dalam konteks kebenaran atas apa yang disampaikan Rasulullah, sebagaimana firman Allah :


“Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar…” (QS. Ali ‘Imron 62)
Sebagai sebuah kitab suci, Al-Qur’an memuat kisah-kisah yang tak terkotori oleh oleh goresan pena tangan-tangan jahil dan tidak tercampuri kisah-kisah dusta dan rekayasa. Kisah-kisahnya merupakan kisah yang benar, yang Allah kisahkan untuk segenap manusia, sebagai cerminan dan contoh bagi kehidupan manusia sekarang dan yang akan datang.
Secara semantik kisah berarti cerita, kisah atau hikayat.  Dapat pula berarti mencari jejak (QS. Al-Kahfi:64); menceritakan kebenaran (QS. Al-An’am:57); menceritakan ulang hal yang tidak mesti terjadi (QS. Yusuf:5); dan berarti berita berurutan (QS. Ali Imran:62). Sedangkan kisah menurut istilah ialah suatu media untuk menyalurkan tentang kehidupan atau suatu kebahagiaan tertentu dari kehidupan yang mengungkapkan suatu peristiwa atau sejumlah peristiwa yang satu dengan yang lain saling berkaitan, dan kisah harus memiliki pendahuluan dan bagian akhir.[2]

B.     KISAH DALAM AL-QURAN
1.      Macam-macam Kisah dalam al-Qur’an
Menurut Manna al-Qaththan,  kisah Qur’an dibagi kepada tiga yaitu:
  1. Kisah Anbiya’ yakni kisah yang mengandung dakwah mereka kepada kaummnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta akibat-akibat yang diterima oleh mereka yang mempercayai dan golongan yang mendustakan. Seperti kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, ‘Isa, Muhammad dan nabi-nabi serta rasul lainnya.
  2. Kisah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan orang-orang yang tidak dipastikan kenabiannya. Seperti kisah Thalut dan Jalut, Habil dan Qabil, dua orang putra Adam, Ashhab al-Kahfi, Zulkarnain, Karun, Ashab al-Sabti, Maryam, Ashab al-Ukhdud, Ashab al-Fil, dan lain-lain.
  3. Kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa rasulullah. Seperti Perang Badar dan Uhud pada surat Ali Imran, perang Hunain dan Tabuk pada surah Taubah, perang Ahzab dalam surah al-Ahzab, hijrah nabi, Isra Mi’raj dan lain-lain.[3]
2.      Metodologi pemahaman kisah
Berbagai penelitian tentang kisah dalam al-Qur’an harus memiliki konsep yang jelas dan benar, sehingga dapat merenungkan letak-letak yang mengandung pelajaran dari kisah-kisah orang terdahulu agar tidak keluar menuju ketersesatan, mitos-mitos, dongeng-dongeng, cerita-cerita, legenda bohong. Dalam al-Qur’an, terdapat beberapa indikator seputar pengamatan terhadap kisah orang-orang terdahulu dan seputar metodologi ilmiah yang benar .
Banyak sekali terdapat metodologi dalam memahami kisah-kisah dalam al-Qur’an, namun diantara yang paling mudah dipahami adalah metode dimana kisah-kisah tersebut di kelompokan dalam katagori “berita-berita gaib” . Kategori gaib dijadikan tawaran metode dengan kenyataan bahwa diantara karakteristik orang-orang mu’min yang paling nyata dan menonjol adalah beriman kepada ayang gaib (transenden),[4]

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka (QS 2 : 3)
Selain itu hal ini juga diperkuat dengan landasan dari bagian rukun iman yaitu beriman kepada yang gaib.
Rasionalitas ghaib dalam karakteristik pemahaman terhadap Islam adalah unsur utama pembentukan rukun iman , dan al-Qur’an sendiri dengan tegas mengkategorikan bahwa kisah-kisah orang-orang terdahulu yang termaktub di dalamnya adalah termasuk ke dalam alam gaib. Dalam memahami kisah gaib dalam al-Qur’an, kisah tersebut dapat ditinjau dari segi waktu, antara lain:
  1. Gaib pada masa lalu; dikatakan masa lalu karena kisah-kisah tersebut merupakan hal gaib yang terjadi pada masa lampau, dan disadari atau tidak kita tidak menyaksikan peristiwa tersebut, tidak mendengarkan juga tidak mengalaminya sendiri. Contoh-contoh dari kisah ini adalah:
·         Kisah tentang dialog malaikat dengan tuhannya mengenai penciptaan kholifah di bumi, sebabagaimana tercantum dalam QS. [2]: 30-34-      Kisah tentang turunnya Malaikat-malaikat pada malam Lailatul Qadar, seperti disebutkan dalam QS. Al-Qadar: 1-5.
·         Kisah tentang kehidupan makhluq-mahkluq gaib seperti setan, jin, Iblis, seperti tercantum dalam QS. Al-A’raf: 13-14.
  1. Gaib pada masa kini; dalam artian bahwa kisah tersebut terjadi pada masa sekarang, namun kita tidak dapat melihatnya di bumi ini
  2. Gaib pada masa depan; dengan penjelasan bahwa semua akan terjadi pada masa depan ( di akhir zaman), Contoh-contoh dari kisah ini adalah;
·         Kisah tentang akan datangnya hari kiamat, seperti tercamtu dalam QS. Qori’ah, Al-Zalzalah.[5]
3.      Gaya cerita
Dalam penyajian kisah al-Qur’an, tema, teknik pemaparan, dan setting peristiwa senantiasa tunduk pada tujuan keagamaan tanpa meninggalkan karakteristik seni. Dengan demikian kisah dalam al-Qur’an merupakan paduan antara aspek seni dan aspek keagamaan.
a.       Gaya Narasi
Gaya penuturan kisah dalam al-Qur’an pada umumnya menggunakan gaya narasi. Gaya ini mendorong pembaca atau pendengar agar memperhatikan cerita yang para pelakunya telah  tiada, namun seolah para pelaku itu dimunculkan kembali.
Berikut adalah beberapa variasi pemaparan gaya narasi kisah Nabi Ibrahim:
·         Gaya pemaparan berawal dari kesimpulan kemudian diikuti uraian kisah sebagaimana versi QS. Maryam (19): 41-49.
·         Gaya pemaparan berawal dari klimaks, sebagaimana versi QS. Hud (11) : 69-75.
·         Gaya pemaparan dramatik, yaitu kisah disusun seperti adegan-adegan drama, sebagaimana versi QS. Al-Baqarah (2) : 258.
·         Gaya pemaparan kisah tanpa diawali pendahuluan, tetapi langsung pada rincian kisah,sebagaimana versi QS. Al-An’am (6) : 74-84 dan 161.
·         Gaya pemaparan kisah yang diawali pendahuluan. Kata-kata yang digunakan sebagai pendahuluan dalam pemaparan kisah al-Qur’an sangat beragam, seperti :
-  wa idz yang diikuti fi’l madhi seperti QS.al-Baqarah 124
-  a lam tara, hal ataka, seperti dalam QS al-Baqarah (2) : 258 dan adz-Dzariyat (51):
-  maa kaana seperti QS.ali Imron (3) : 67[6]
-  dan masih ada beberapa kata pembuka lainnya
b.      Gaya Dialog
Kisah-kisah dalam al-Qur’an sering ditampilkan dalam konteks dialog sehingga lafal-lafal qaala, qaaluu, qaalat, qulnaa, yaaquuluu, yaquuluun, seringkali kita temukan.Dialog dalam kisah al-Qur’an dapat menggambarkan kepribadian pelakunya, yakni dengan memperhatikan cara pengungkapan bisikan jiwa, pendapat, dan sikapnya tatkala terjadi perselisihan di anatara mereka.
Dalam pengembangan metode bercerita, dialog merupakan unsur penentu menariktidaknya dan hidup-matinya cerita, terlebih cerita untuk anak-anak. Percakapan tokoh memicu imajinasi anak akan karakter tokoh dan tingkah laku.

C.     HIKMAH KISAH DALAM AL-QUR’AN
Ada hikmah yang sangat banyak dan besar di balik kisah-kisah di dalam Al Qur’an tersebut, di antaranya[7]:
  1. Penjelasan tentang kebijaksanaan Allah Ta’ala yang terkandung dalam kisah-kisah tersebut. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran), itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).” (Q.S. Al Qamar: 4-5)
  2. Penjelasan tentang kemahaadilan Allah yang menjatuhkan hukuman bagi orang-orang yang mendustakan. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala berkenaan dengan orang-orang yang mendustakan: “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Rabb-mu datang.” (Q.S. Huud: 101)
  3. Penjelasan tentang karunia Allah yang memberi balasan baik bagi orang-orang yang beriman. Berdasarkan firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al Qamar: 34-35)
  4. Hiburan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atas penderitaan yang beliau alami karena gangguan orang-orang yang mendustakan beliau. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya); kepada mereka telah datang rasul-rasul-Nya dengan membawa mu’jizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaan-Ku.” (Q.S. Faathir: 25-26)
  5. Motivasi bagi kaum mukminin agar istiqamah di atas keimanan dan untuk meningkatkannya. Karena mereka mengetahui keselamatan orang-orang mukmin terdahulu dan kemenangan yang diraih oleh orang-orang yang diperintahkan untuk berjihad. Dasarnya adalah firman Allah Ta’alayang artinya: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al Anbiyaa’: 88)
    “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ar Ruum: 47)
  6. Ancaman bagi orang-orang kafir supaya tidak melestarikan kekafirannya. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (Q.S. Muhammad: 10)
  7. Bukti atas kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, karena hanya Allah sajalah yang mengetahui kisah umat-umat terdahulu tersebut. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya: “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (Q.S. Huud: 49)
“Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah.” (Q.S. Ibrahim: 9)
Di antara kisah-kisah tersebut ada yang hanya disebutkan sekali saja, seperti kisah Luqman dan pemuda Al-Kahfi, dan ada yang disebutkan berulang kali, menurut keperluan dan mashlahatnya. Pengulangan itu tidaklah dalam bentuk yang sama. Namun berbeda-beda bentuknya, kadang panjang, kadang pendek, kadang lembut dan kadang keras, kadang disebutkan beberapa bagian dari kisah tersebut di satu tempat dan tidak disebutkan di tempat lainnya.
Hikmah pengulangan tersebut adalah sebagai berikut:
·         Penjelasan tentang urgensi kisah tersebut. Karena pengulangannya menunjukkan bahwa kisah tersebut penting.
·         Penegasan kisah tersebut, agar lebih meresap ke dalam hati manusia.
·         Melihat kondisi zaman dan keadaan manusia pada saat itu. Oleh sebab itu, kisah-kisah dalam surat Makkiyah biasanya lebih keras dan lebih ringkas. Sementara kisah-kisah dalam surat-surat Madaniyah sebaliknya, lebih lembut dan lebih panjang.
·         Keterangan tentang indahnya balaghah Al Qur’an yang mampu menghadirkan kisah tersebut dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan keadaannya.
·             Menunjukkan kebenaran Al Qur’an dan menunjukkan bahwa Al Qur’an berasal dari sisi AllahTa’ala, di mana kisah-kisah tersebut dihadirkan dalam bentuk yang berbeda-beda tanpa terdapat kontroversi di dalamnya.
Dalam pemaparan kisah-kisah al-Qur'an, pada dasarnya terdapat banyak sekali faedah yang dapat dipetik manfaatnya. Faedah-faedah tersebut tertuang jelas dalam al-Qur'an, walaupun sebenarnya terdapat faedah-faedah yang tidak tertulis yang belum manusia ketahui secara pasti. Diantara faedah yang tertuang jelas dalam al-Qur'an adalah :
1.      Menjelaskan asas-asas dakwah menuju Allah dan menjelaskan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh para Nabi.
2.      Meneguhkan hati Rasulullah dan umatnya atas agama Allah, memperkuat kepercayaan orang mukmin tentang menangnya kebenaran dan para pendukung serta hancurnya kebatilan dan para pembelanya.
3.      Membenarkan Nabi terdahulu, menghidupkan kenangan serta mengabaikan jejak dan peninggalannya.
4.      Menampakkan kebenaran Muhammad dalam berdakwah dengan apa yang diberitakan tentang hal ihwal orang-orang terdahulu disepanjang kurun dan generasi.
5.      Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar dan memantapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya ke dalam jiwa, baik berupa nasehat, perintah, dan ancaman.[8]
Dari beberapa faedah yang telah disebutkan diatas, dapat dikatakan bahwa sebenarnya muatan atau kandungan yang terdapat dalam kisah-kisah itu adalah mencakup beberapa hal. Diantaranya adalah unsur teologis yang dapat dilihat dengan keterangan yang bersifat ketuhanan dan kenabian. Kedua, adalah moralitas, hal ini dapat dilihat dengan adanya pesan-pesan yang terdapat di dalamnya menyangkut suatu pelajaran-pelajaran penting yang harus dijadikan pelajaran. Adakalanya untuk ditiru maupun untuk dijauhi. Ketiga, adalah unsur peradaban dan sastra yang terlihat ketika metode penyampaiannya menggunakan cerita. Hal ini mempunyai hal tersendiri, misalnya dapat menarik perhatian yang membaca atau yang mendengarnya, disamping itu juga bahwa suatu hal yang dijelaskan atau diungkapkan dengan metode sastra, dapat langsung menyentuh jiwa orang atau obyek yang menjadi tujuan diungkapkannya perihal tersebut.
Lebih dari semua yang dipaparkan di muka, bahwa ketika kisah al-Qur'an dilihat dari tujuannya, maka diketahui letak perbedaan antara cerita dalam al-Qur'an dengan cerita pada umumnya. Al-Qur'an memakai kisah sebagai salah satu cara mengungkapkan tujuan-tujuan yang bersifat transcendental, kendatipun demikian, aspek kesusastraan suatu kisah pada al-Qur'an tidak serta merta hilang, terutama pada saat menggambarkan umat masa lalu. Sedangkan cerita sastra pada umumnya hanyalah menonjolkan ungkapan seni atau kesusastraan saja pada aspek tujuannya. Itulah perbedaan mendasar antara cerita al-Qur'an dengan cerita sastra biasa.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari semua paparan diatas, terdapat beberapa titik tekan pada kisah-kisah dalam al-Qur'an, yaitu:
a.       Pada dasarnya, kisah dalam al-Qur'an bertujuan untuk mengantarkan manusia pada suatu kebenaran melalui berbagai metode penyampaian dan ungkapan unsur-unsurnya.
b.      Walaupun intinya sama, akan tetapi dalam al-Qur'an terdapat dua hal yang pokok, yaitu bahwa variasi kisah dalam paparan diatas dapat dikelompokkan pada 2 (dua) hal saja, yaitu: cerita yang berupa “kenyataan” (cerita yang benar-benar terjadi), dan “simbolik” (cerita yang hanya berupa simbol belaka dan terjadinya bukan merupakan keharusan).




[1] Kadar M Yusuf, study al-Qur’an ( Jakarta : Amzah. 2009) hal 13
[2] Ibid hal 13
[3] Manna Khalil Al-Qattan, Study al- Qur’an (Bogor: pustaka lintera antar Nusa: 2001) terj. Hal 34
[5] Qalyubi, Shihabuddin. Stilistika al-Qur'an: Pengantar Orientasi Studi al-Qur'an, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1997.) hal 63
[6] Ibid hal 13
[8] Kadar M Yusuf, 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar